awan-awan oranye
begitu cantik berurai tipis
menghias remang langit senja
di atas atap-atap beton kota Jakarta
kunang-kunang warna-warni
tergantung ramai menyebar nuansa,
menggoda mata yang melewati
untuk berpaling ke sisi-sisi jalan
lebaran berakhir,
kukemasi kain di emperan
tempat dagangan kujajakan
dan beranjak aku pulang ke kampung halaman.
kutinggalkan hatiku di Jakarta
kutitipkan pada kenangan
dan kapan nanti...
pasti kuambil kembali
01 September 2005
30 August 2005
seribu suara berkuasa
berdiri dia di sebuah stasiun kereta
sendiri,
berdua,
dengan kesendiriannya.
hijau, merah, lampu berganti,
dan selintas terasa
semilir hangat angin sore
melewati tengkuknya
satu, dua, tiga,
seribu kereta melintas.
berdiri dia di sebuah stasiun kereta
sendiri,
berdua,
dengan kesendiriannya.
oranye, abu, gerbong berganti.
dan selintas terlihat
lelatu rel dengan roda
cantik mengisi gelap petang
satu, dua, tiga,
seribu kereta melintas.
berdiri dia di sebuah stasiun kereta
sendiri,
berdua,
dengan kesendiriannya.
hitam, putih, pikirannya bergejolak
dan selintas terlintas
amukan hati berputus asa
suara-suara berisik dari dalam adalah tuhannya
satu, dua, tiga,
seribu suara berkuasa
***
terbaring kaku dia di sebuah rel kereta
sendiri,
sendiri,
tanpa nyawanya.
sendiri,
berdua,
dengan kesendiriannya.
hijau, merah, lampu berganti,
dan selintas terasa
semilir hangat angin sore
melewati tengkuknya
satu, dua, tiga,
seribu kereta melintas.
berdiri dia di sebuah stasiun kereta
sendiri,
berdua,
dengan kesendiriannya.
oranye, abu, gerbong berganti.
dan selintas terlihat
lelatu rel dengan roda
cantik mengisi gelap petang
satu, dua, tiga,
seribu kereta melintas.
berdiri dia di sebuah stasiun kereta
sendiri,
berdua,
dengan kesendiriannya.
hitam, putih, pikirannya bergejolak
dan selintas terlintas
amukan hati berputus asa
suara-suara berisik dari dalam adalah tuhannya
satu, dua, tiga,
seribu suara berkuasa
***
terbaring kaku dia di sebuah rel kereta
sendiri,
sendiri,
tanpa nyawanya.
aku sedang mencintai seseorang diam-diam
aku...sedang mencintai seseorang diam-diam
bahkan langkahnya, aku tahu setiap irama dan ketukannya
setiap kalimatnya aku bayangkan menjadi lagu-lagu cinta
sayangnya bayangku di hatinya tidak ada,
selalu menjadi sekelebat angin
yang lewat melalui pohon meranggas
dan berubah menjadi daun-daun rapuh
yang terjun terhempas
namun melayang ringan perlahan
sambil merintih lemah
hinga jatuh ke tanah..
bahkan langkahnya, aku tahu setiap irama dan ketukannya
setiap kalimatnya aku bayangkan menjadi lagu-lagu cinta
sayangnya bayangku di hatinya tidak ada,
selalu menjadi sekelebat angin
yang lewat melalui pohon meranggas
dan berubah menjadi daun-daun rapuh
yang terjun terhempas
namun melayang ringan perlahan
sambil merintih lemah
hinga jatuh ke tanah..
13 August 2005
End It Now
as rainbows and stars
pass calmly through my skies,
i burn all the paradise
i've been building and mythicize
step on my sand castles
yes, you're allowed to do so
and no, i won't wrestle
it's useless, i know.
as moonbeams and wind breeze
flow smoothly through my nights,
i silently try to freeze
all my hopes and dreams in sight
burst all my bubbles
yes, you're welcomed to do so
and no, i won't cause you trouble
i'm done here, i know.
[ah, ya sudahlah..]
pass calmly through my skies,
i burn all the paradise
i've been building and mythicize
step on my sand castles
yes, you're allowed to do so
and no, i won't wrestle
it's useless, i know.
as moonbeams and wind breeze
flow smoothly through my nights,
i silently try to freeze
all my hopes and dreams in sight
burst all my bubbles
yes, you're welcomed to do so
and no, i won't cause you trouble
i'm done here, i know.
[ah, ya sudahlah..]
Di Tengah Jalan, Siput Berubah Keriput
Hari ini terasa panjang. Bahkan terlalu panjang untuk dirasa pendek. Setiap gerakku seakan terhambat. Detik-detik melekat seakan tak mau lepas satu sama lain. Waktu menjerat tubuhku untuk dapat bergerak lebih cepat.
Aku lelah.
Betapa inginnya aku berhenti sekarang.
Untuk seorang manusia jarak dua langkah itu kecil, tapi sejauh ini rasanya semak itu masih jauh dari jangkauanku. Seakan-akan kebun ini telah berubah menjadi sebuah stadion besar, dan aku berada di tengah lomba. Sayangnya, tak satupun penonton bersorak untukku.
"Ma! Ada bekicot! Aku kasih garam ya? Biar mati!"
"Jangan, Nak. Kita tunggu saja dia sampai ke tujuannya. Lihat semangatnya."
Oh...mungkin satu orang.
Aku lelah.
Betapa inginnya aku berhenti sekarang.
Untuk seorang manusia jarak dua langkah itu kecil, tapi sejauh ini rasanya semak itu masih jauh dari jangkauanku. Seakan-akan kebun ini telah berubah menjadi sebuah stadion besar, dan aku berada di tengah lomba. Sayangnya, tak satupun penonton bersorak untukku.
"Ma! Ada bekicot! Aku kasih garam ya? Biar mati!"
"Jangan, Nak. Kita tunggu saja dia sampai ke tujuannya. Lihat semangatnya."
Oh...mungkin satu orang.
07 August 2005
Radit Yang Tidak Cengeng
Radit kecil lahir sekitar 8 bulan yang lalu, membawa kebahagiaan kepada orang-orang di sekelilingnya. Hubungan kedua orangtuanya dengan masing-masing mertua kian membaik karena kehadirannya mengisi ruang kosong di hati keempat orang tua itu.
Radit tidak seperti balita kebanyakan. Bukannya bangun dan menangis di malam hari, dia tampak tidur pulas. Tak satu haripun orangtuanya terbangun karena jeritan dan tangisan tengah malam.
Ayahnya bangga, anaknya tidak cengeng.
Ibunya bersyukur, tidurnya tidak terganggu.
--
Malam ini di tengah tidurnya Radit terbangun. Matanya menangis melihat sosok putih berambut panjang di depannya, namun tak satu suarapun terdengar karena kuntilanak itu membungkam mulutnya.
Seperti pada malam-malam sebelumnya.
Radit tidak seperti balita kebanyakan. Bukannya bangun dan menangis di malam hari, dia tampak tidur pulas. Tak satu haripun orangtuanya terbangun karena jeritan dan tangisan tengah malam.
Ayahnya bangga, anaknya tidak cengeng.
Ibunya bersyukur, tidurnya tidak terganggu.
--
Malam ini di tengah tidurnya Radit terbangun. Matanya menangis melihat sosok putih berambut panjang di depannya, namun tak satu suarapun terdengar karena kuntilanak itu membungkam mulutnya.
Seperti pada malam-malam sebelumnya.
05 August 2005
Teruntuk Alice
gundukan tanah
yang ada di kebunmu
adalah tumpukan perasaan
orang-orang yang akan kau jumpai
liang kelinci yang kau masuki
adalah misteri alam pikiran
yang menyedotmu masuk
ke dalam ketidakwarasan
ulat yang bersantai di sebuah jamur
dengan rokok dan asapnya
akan mengajarkan kau
bagaimana menikmati candu
kucing gila yang terus menerus menyeringai
adalah hilang-timbulnya
sengitnya pertengkaran
otak kiri dan kananmu
lorong-lorong berpintu
adalah labirin rahasia
tempat cinta dan iblis
mengaduh bentrok kesakitan
dan ratu berbadan kartu
adalah dirimu
ketika kau terlalu sibuk melangkah catur
dan tak lagi mengenal cinta
yang ada di kebunmu
adalah tumpukan perasaan
orang-orang yang akan kau jumpai
liang kelinci yang kau masuki
adalah misteri alam pikiran
yang menyedotmu masuk
ke dalam ketidakwarasan
ulat yang bersantai di sebuah jamur
dengan rokok dan asapnya
akan mengajarkan kau
bagaimana menikmati candu
kucing gila yang terus menerus menyeringai
adalah hilang-timbulnya
sengitnya pertengkaran
otak kiri dan kananmu
lorong-lorong berpintu
adalah labirin rahasia
tempat cinta dan iblis
mengaduh bentrok kesakitan
dan ratu berbadan kartu
adalah dirimu
ketika kau terlalu sibuk melangkah catur
dan tak lagi mengenal cinta
31 July 2005
Surat Cinta
Temanku memotong urat nadinya Senin lalu. Sebuah cara yang terlalu konvensional untuk bunuh diri, tapi nyatanya dia berhasil merenggut nyawanya sendiri.
Ibunya menelponku kemarin, "Tiara, bisa tolong tante membereskan barang-barang Andri?"
Jadi aku datang hari ini. Ibumu terlalu sedih untuk masuk sendiri ke kamarmu.
Apa yang salah, Ndri?
Aku berulang-ulang kali bilang kamu temanku yang paling berharga.
Sahabatku yang takkan terganti.
Aku berulang-ulang kali bilang itu.
Berulang-ulang kali.
Di antara barang-barangmu, kutemukan sebuah surat yang ditujukan kepadaku.
"Aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku cinta kamu."
Surat cinta?
"dan aku tak mampu lagi bernyawa
bila dirimu takkan jadi milikku."
Bukan.
Ibunya menelponku kemarin, "Tiara, bisa tolong tante membereskan barang-barang Andri?"
Jadi aku datang hari ini. Ibumu terlalu sedih untuk masuk sendiri ke kamarmu.
Apa yang salah, Ndri?
Aku berulang-ulang kali bilang kamu temanku yang paling berharga.
Sahabatku yang takkan terganti.
Aku berulang-ulang kali bilang itu.
Berulang-ulang kali.
Di antara barang-barangmu, kutemukan sebuah surat yang ditujukan kepadaku.
"Aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku cinta kamu."
Surat cinta?
"dan aku tak mampu lagi bernyawa
bila dirimu takkan jadi milikku."
Bukan.
17 July 2005
Redupkan Gilang Gemilang
terang malam
rindukan awan
menutupi
rembulan
bersenandung sedih
bintang redupkan
gilang gemilang
sinar manisnya
jalan kota mengosong
neon lampu memudar
dan gelap akhirnya
hati
sunyi
sunyi
menanti...
penabuh matahari
sunyi
sunyi
menunggu...
dirimu
rindukan awan
menutupi
rembulan
bersenandung sedih
bintang redupkan
gilang gemilang
sinar manisnya
jalan kota mengosong
neon lampu memudar
dan gelap akhirnya
hati
sunyi
sunyi
menanti...
penabuh matahari
sunyi
sunyi
menunggu...
dirimu
15 July 2005
a romantic overture
i deliberated
an entrapment,
designed specifically,
and only, for me
and somewhere
along the way
the gears stop winding
tired of rotating
overtaken
by mists of different colors
my trap evolved
into a maze i must solve
"i'd win it against time,"
tracing the walls
with my left hand,
wishing the exit i'd find
...
truth is
pain,
the exit's an illusion
...
and i would
love,
to instantly give up
so come on,
step over here
give me my break
be my escape
an entrapment,
designed specifically,
and only, for me
and somewhere
along the way
the gears stop winding
tired of rotating
overtaken
by mists of different colors
my trap evolved
into a maze i must solve
"i'd win it against time,"
tracing the walls
with my left hand,
wishing the exit i'd find
...
truth is
pain,
the exit's an illusion
...
and i would
love,
to instantly give up
so come on,
step over here
give me my break
be my escape
07 July 2005
Lain Dulu, Lain Sekarang
Malam itu hujan turun lebat mengepung dua sosok manusia di sebuah halte.
"Mau ke mana?"
"Pulang, mas"
"Ke?"
"Mahakam."
"Hati-hati, mbak. Banyak PSK. Warianya juga banyak."
"Ooh...iya. Memang banyak. Tapi kan nggak bahaya?"
"Eits...jangan salah, mbak! Waria-waria kadang-kadang jahat sama cewek. Takut diambil, kali, pasarnya..."
"Hahaa...masa iya?"
"Iya, mbak. Serius!"
"Iya, deh. Nanti saya hati-hati."
"Kok mau ya, jadi waria?"
"Yah...mungkin nggak ada pilihan lain..."
"Masa? Mereka 'kan bisa cari kerjaan lain?"
"Palingan kebanyakan cuma lulus SD, mas. Eh! Bis saya datang, mas! Duluan, ya?"
"Iya, mbak, silahkan. Ngomong-ngomong, nama saya Iwan."
"Saya Nina. Tapi dulu nama saya juga Iwan."
"Mau ke mana?"
"Pulang, mas"
"Ke?"
"Mahakam."
"Hati-hati, mbak. Banyak PSK. Warianya juga banyak."
"Ooh...iya. Memang banyak. Tapi kan nggak bahaya?"
"Eits...jangan salah, mbak! Waria-waria kadang-kadang jahat sama cewek. Takut diambil, kali, pasarnya..."
"Hahaa...masa iya?"
"Iya, mbak. Serius!"
"Iya, deh. Nanti saya hati-hati."
"Kok mau ya, jadi waria?"
"Yah...mungkin nggak ada pilihan lain..."
"Masa? Mereka 'kan bisa cari kerjaan lain?"
"Palingan kebanyakan cuma lulus SD, mas. Eh! Bis saya datang, mas! Duluan, ya?"
"Iya, mbak, silahkan. Ngomong-ngomong, nama saya Iwan."
"Saya Nina. Tapi dulu nama saya juga Iwan."
04 July 2005
Dan Kini Tentang Kemarau
aku merindukan
kemarau
membatik nuansa ramai
lewat tabuhan
nada gemerisik ranggasan
layang terbang layangan
aku merindukan
datangnya lagi
angin menabur
dedaunan kering,
kering,
dan kering
tiup angin
aku merindukan
kemarau
memainkan
warna indah
oranye di atas hijau
indah
ketidakteraturan awan
indah, dan indah
indah
aku merindukan
datangnya lagi
canting alam
membatik meriah suasana
...dan kutunggu
hingga datang kering
kering,
dan kering
kemarau
membatik nuansa ramai
lewat tabuhan
nada gemerisik ranggasan
layang terbang layangan
aku merindukan
datangnya lagi
angin menabur
dedaunan kering,
kering,
dan kering
tiup angin
aku merindukan
kemarau
memainkan
warna indah
oranye di atas hijau
indah
ketidakteraturan awan
indah, dan indah
indah
aku merindukan
datangnya lagi
canting alam
membatik meriah suasana
...dan kutunggu
hingga datang kering
kering,
dan kering
01 July 2005
Awake, No More
sleep..
and dream more..
of me, of you,
of us, of everyone you know
sleep..
and i'll meet you there
i'll dream, you'll dream..
i'll breathe, and you'll be my air
must i,
i ask of you
wake up if you do?
when why would i, i'd be losing you.
should i,
i ask of you
be letting you go?
for if i do, when would you know?
sleep
and dream more
i'll meet you there
and be awake, no more.
and dream more..
of me, of you,
of us, of everyone you know
sleep..
and i'll meet you there
i'll dream, you'll dream..
i'll breathe, and you'll be my air
must i,
i ask of you
wake up if you do?
when why would i, i'd be losing you.
should i,
i ask of you
be letting you go?
for if i do, when would you know?
sleep
and dream more
i'll meet you there
and be awake, no more.
Dreamland Recorder
fabulous things are still faraway
but you may do what they'd always say
i think it's been a matter of history
and as long as it is, it would always be.
but history is manipulaion
and your mind's been playing tricks on you
we're at the heels of revolution
moving upwards slowly solving clues.
but when you're finally there
i'd already be waiting
with a camera of any kind
so long it's time it's killing.
... and make a still out of it
of not being alone under the crimson-colored sky
sprayed by the extravagant fountain
and the green's beautiful enough to die.
...and make a tape out of it
with a dreamland recorder
we've gone for years now,
should there be a reason to falter?
but you may do what they'd always say
i think it's been a matter of history
and as long as it is, it would always be.
but history is manipulaion
and your mind's been playing tricks on you
we're at the heels of revolution
moving upwards slowly solving clues.
but when you're finally there
i'd already be waiting
with a camera of any kind
so long it's time it's killing.
... and make a still out of it
of not being alone under the crimson-colored sky
sprayed by the extravagant fountain
and the green's beautiful enough to die.
...and make a tape out of it
with a dreamland recorder
we've gone for years now,
should there be a reason to falter?
Menghamburlah Kepadaku
Matahari mencair di indahnya merah laut senja,
Dan kau menatap air matanya dengan penuh duka.
Hanya menunggu datangnya badai berkepanjangan
Berpura-pura tegar meyakini; dirimu pasrah.
Tapi ketika warna hatimu menjadi kelam
Dan ketika luka itu menjadi tak berperi,
Menghamburlah kepadaku untuk suatu jeda dari siksa.
akan kusambut dengan perisai indah penahan lara,
atau merangkulmu saat kau lelah merintih..
dan kubuat badai itu menjadi ketenangan yang meraja.
Dan kau menatap air matanya dengan penuh duka.
Hanya menunggu datangnya badai berkepanjangan
Berpura-pura tegar meyakini; dirimu pasrah.
Tapi ketika warna hatimu menjadi kelam
Dan ketika luka itu menjadi tak berperi,
Menghamburlah kepadaku untuk suatu jeda dari siksa.
akan kusambut dengan perisai indah penahan lara,
atau merangkulmu saat kau lelah merintih..
dan kubuat badai itu menjadi ketenangan yang meraja.
Untuk Sementara
Untuk sementara,
Biarkan aku berduka
Di balik rentetan gigi yang terlihat saat aku tertawa
Agar sakit itu nyaman rasanya.
Untuk sementara,
Biarkan pedih itu tinggal sejenak
Sampai saatnya ia tergantikan
Oleh luapan kegembiraan yang akan tiba kembali.
Untuk sementara,
Acuhkan airmata ini,
Pasangkan topeng panggungku dengan sempurna,
Dan mainkan tali penarik tirai tanpa pertanyaan.
Untuk sementara,
Arahkan lampu panggung ke lakon lain,
Sembari aku duduk di sudut panggung
Menikmati tangis ini.
Biarkan aku berduka
Di balik rentetan gigi yang terlihat saat aku tertawa
Agar sakit itu nyaman rasanya.
Untuk sementara,
Biarkan pedih itu tinggal sejenak
Sampai saatnya ia tergantikan
Oleh luapan kegembiraan yang akan tiba kembali.
Untuk sementara,
Acuhkan airmata ini,
Pasangkan topeng panggungku dengan sempurna,
Dan mainkan tali penarik tirai tanpa pertanyaan.
Untuk sementara,
Arahkan lampu panggung ke lakon lain,
Sembari aku duduk di sudut panggung
Menikmati tangis ini.
Maka Identitas Tidak Lagi Menjadi Soal
Ketika gaung kalimat kebenaran sudah terdengar
Begitu jelas di telinga
Begitu sakit terasa
Itulah waktuku untuk bersembunyi
Untuk sekali ini saja, biarlah kakiku melangkah!
Setidaknya jauh menepi
Dari ombak air bersahutan
Datang dan pergi...datang dan pergi
...persembunyian dari harap...
...imaji yang tak berbalas!
Yang berawal dari cabang yang kulangkahi sembari menatapmu.
Aku hilang arah - tujuan kemana seharusnya jejak kularikan
Dunia ini lelucon kosong!
Tanpa warna, tanpa suara,
Tanpa harum, tanpa rasa!
Aku terjebak dalam labirin ke'andai'an...
Sayangnya, tanpamu.
~ maka identitas tak lagi menjadi soal,
jika tidak ada engkau untuk mengenalku.
Begitu jelas di telinga
Begitu sakit terasa
Itulah waktuku untuk bersembunyi
Untuk sekali ini saja, biarlah kakiku melangkah!
Setidaknya jauh menepi
Dari ombak air bersahutan
Datang dan pergi...datang dan pergi
...persembunyian dari harap...
...imaji yang tak berbalas!
Yang berawal dari cabang yang kulangkahi sembari menatapmu.
Aku hilang arah - tujuan kemana seharusnya jejak kularikan
Dunia ini lelucon kosong!
Tanpa warna, tanpa suara,
Tanpa harum, tanpa rasa!
Aku terjebak dalam labirin ke'andai'an...
Sayangnya, tanpamu.
~ maka identitas tak lagi menjadi soal,
jika tidak ada engkau untuk mengenalku.
oLtArIaN vKeAzL I
Akan kuungkap semua
Tepat kali lain jika kau bertemu denganku
Karena kali itu, matamu
Akan melihatku melihatmu.
Ya, kuungkap semua cerita..
Segala muram, durja, dan murka selayak Kurawa membenci Pandawa
Segala cita, ria, dan suka selayak Bima berputra Gatotkaca.
Segalanya tentang kita.
Tentu saja, kali ini tanpa embel-embel cerita wayang.
Hanya kata, wacana sebenar-benarnya.
Tepat kali lain jika kau bertemu denganku
Karena kali itu, matamu
Akan melihatku melihatmu.
Ya, kuungkap semua cerita..
Segala muram, durja, dan murka selayak Kurawa membenci Pandawa
Segala cita, ria, dan suka selayak Bima berputra Gatotkaca.
Segalanya tentang kita.
Tentu saja, kali ini tanpa embel-embel cerita wayang.
Hanya kata, wacana sebenar-benarnya.
Pelangi Cinta Berselimutkan Durja
Siang ini hatiku tertusuk
Oleh garis-garis tajam pelangi cinta
Yang hadir lewat kata-kata indahmu
Yang Sayangnya tertujukan pada seorang lain.
Betapa indahnya warna darah itu
Ketika menghujam sebuah pisau laknat
Yang mendarat pedih dan disesali
Di tempat aku menyimpan cinta untukmu.
Sulit rasaku melawan gravitasi
Untuk naik kembali ke permukaan bumi
setelah jauh aku tertelan - menuju kulit neraka
merasakan tajamnya balutan duri bertopeng kecewa
Pelangi cinta itu berselimutkan durja
Yang tak akan terbuka sebelum - mungkin - kiamat.
Tapi pada akhir waktu, jika datang akhir waktu,
Aku akan belajar kembali melihatmu
Hanya saja kali ini dengan menutup mata.
Oleh garis-garis tajam pelangi cinta
Yang hadir lewat kata-kata indahmu
Yang Sayangnya tertujukan pada seorang lain.
Betapa indahnya warna darah itu
Ketika menghujam sebuah pisau laknat
Yang mendarat pedih dan disesali
Di tempat aku menyimpan cinta untukmu.
Sulit rasaku melawan gravitasi
Untuk naik kembali ke permukaan bumi
setelah jauh aku tertelan - menuju kulit neraka
merasakan tajamnya balutan duri bertopeng kecewa
Pelangi cinta itu berselimutkan durja
Yang tak akan terbuka sebelum - mungkin - kiamat.
Tapi pada akhir waktu, jika datang akhir waktu,
Aku akan belajar kembali melihatmu
Hanya saja kali ini dengan menutup mata.
Kapanlah Akan Datang
Mungkin kalau bukan hari ini,
Saatnya akan datang esok lusa
Untuk menggeser imaji dengan gambaran
Murka akan keadilan yang tak kunjung datang
Alasan tak pernah masuk akal..
Namun akalpun tak jelas warasnya.
Jika esok lusa ia tak datang pula
Masa depan masih luang - lapang.
Kecuali jika waktu hancur dan binasa,
Tanpa pagaran dan batas ia luas terbentang.
Tapi rongga itu terlalu luas
Untukku mengambang sendiri.
Timbangan itu masih timpang,
Dan sayangnya ia tidak memihakku.
Capit-capit kokoh dengan hati bijaksana telah pergi
Namun aku bukan boleh menggapai..
Bukan pula bisa mencapai dan merengkuh kembali
Indahnya hati itu
Maka kepadaNYA..
Entah sampai kapan, aku rahasiakan selintas kalimat cinta.
Saatnya akan datang esok lusa
Untuk menggeser imaji dengan gambaran
Murka akan keadilan yang tak kunjung datang
Alasan tak pernah masuk akal..
Namun akalpun tak jelas warasnya.
Jika esok lusa ia tak datang pula
Masa depan masih luang - lapang.
Kecuali jika waktu hancur dan binasa,
Tanpa pagaran dan batas ia luas terbentang.
Tapi rongga itu terlalu luas
Untukku mengambang sendiri.
Timbangan itu masih timpang,
Dan sayangnya ia tidak memihakku.
Capit-capit kokoh dengan hati bijaksana telah pergi
Namun aku bukan boleh menggapai..
Bukan pula bisa mencapai dan merengkuh kembali
Indahnya hati itu
Maka kepadaNYA..
Entah sampai kapan, aku rahasiakan selintas kalimat cinta.
Subscribe to:
Posts (Atom)